Bhayangkara FC, Juara Yang Terasa Senyap

Bhayangkara FC, Juara Yang Terasa Senyap

Saat itu tanggal 9 April 1999 sore hari, saya  sedang bekerja di kantor. Di waktu yang sama, Di ujung nan jauh disana, sedang berlangsung babak final antara PSIS Semarang lawan musuh bebuyutan  Persebaya Surabaya. Saya bukanlah mengidolakan kedua klub tersebut, saya  orang yang netral, tetapi saya suka dengan kedua tim itu sebagai  klub  dengan akar  klub yang kuat dan basis massa yang hebat.

Pada sebuah laga yang dimainkan di Stadion Klabat Manado, akhirnya PSIS  berhasil mengalahkan Persebaya dengan skor 1-0. Sebiji gol diciptakan Tugiyo pemain ndeso yang dijuluki “Maradona Purwodadi” .

Saya hanyalah orang netral terhadap PSIS maupun Persebaya, tetapi saya  ikut merasakan kebanggaan terhadap PSIS yang mampu menjungkirbalikkan prediksi para pengamat bola. Saya ikut bangga karena pemain ndeso bernama Tugiyo “Si Maradona dari Purwodadi”  mencetak satu-satunya gol ke gawang Persebaya. Masyarakat pecinta bola ikut bangga. Masyarakat Semarang menyambut  para pemain PSIS dengan memenuhi  jalan-jalan utama dengan penuh  suka cita. Euforia yang luar biasa !

Tahun 2005, tepatnya hari Minggu 25 September, Stadion Gelora Bung Karno dipenuhi oleh suporter berseragam Orange. Masyarakat pecinta bola lebih familier menyebut  dia sebagai komunitas The Jakmania. Sementara  disisi sebelahnya, suporter Persipuramania  yang jumlahnya lebih  sedikit.

Tim yang bertanding tentu sudah bisa ditebak. Yes, Persija Jakarta lawan Persipura di partai puncak Liga Indonesia 2005. Meskipun kalah dalam jumlah pendukung, Persipura mampu mengalahkan Persija Jakarta dengan skor 3-2. Persipura mengangkat piala kemenangan, setelah 25 tahun haus prestasi. Ketika  liga Indonesia masih bernama Perserikatan, persipura pernah meraih juara di tahun 1980.

Baca : Madura United Stress di Pekan ke-33

Kebanggaan masyarakat Jayapura adalah kebanggaan masyarakat Papua. Masyarakat pecinta bola  di tanah air juga ikut bangga, karena  ada tim sepakbola diujung timur yang berprestasi di tingkat nasional. Dengan raut wajah ceria Pelatih Persipura Rahmad Darmawan  mengangkat piala kemenangan. Tak ketinggalan para pemain Persipura turut mengangkat Piala  kemenangan, ada Boas Solozza yang lagi moncer, Eduard Ivak Dalam, Ian Kabes, Christian Warobay, Jendry Pitoy, Christian Lenglolo, dll. Pemain Persipura diarak  disepanjang kota Jayapura. Euforia yang luar biasa !

Tahun 2006, tahun kebanggaan buat Persik Kediri. Meski saat ini Persik Kediri turun kasta ke Liga 3, Masyarakat Kediri pernah memiliki klub yang mengharumkan kotanya. Kebanggaan yang juga dirasakan oleh pecinta bola nusantara, karena untuk kedua kalinya Persik Kediri merebut Juara Liga Indonesia. wow, Amaizing !

Tahun 2003 Persik Kediri merebut Juarta Liga Indonesia.  Tahun 2006 lebih special lagi, merebut Juara Liga Indonesia sekaligus  memunculkan strikernya menjadi top skorer  dengan 29 gol, dialah Cristian Gonzales. Gozales adalah Persik Kediri, dan Persik Kediri adalah Gonzales.

Usai merebut juara di Stadion Manahan Solo,  para pecinta Persik Kediri sudah menyambut di perbatasan Kediri dengan Kabupaten Nganjuk. Sebagian malah  menunggu di perbatasan Jateng-Jatim. Euforia yang luar Biasa !

Tahun 2017, kali ini giliran  Bhayangkara FC  yang merebut Juara Liga 1. Apakah anda pecinta  Bhayangkara FC ? Apakah  anda merasakan  ada eforia yang luar biasa seperti yang dirasakan pecinta bola di Semarang, Jayapura, dan Kediri ?

Akui saja bahwa semua itu tidak  dialami oleh para pemain Bhayangkara FC. Bhayangkara FC merasakan  sesuatu yang lain.  Bhayangkara FC seperti merasakan sunyi senyap  ditengah keramaian. Bhayangkara FC bisa meraih juara , tapi tidak bisa mendapatkan Euforia . Bhayangkara bisa membeli  lisensi klub, tapi tidak bisa mendapatkan basis massa seperti yang dimiliki PSIS Semarang, Persipura Jayapura, ataupun Persik Kediri.

Yang terjadi  mungkin malah sebaliknya. Bhayangkara FC mendapat cibiran dari beberapa pihak yang mungkin pernah disakiti.  Salah satunya dari Madura United.

Masih ingat kan Liga 1 Pekan 33 ? Di pekan itu adalah laga tuan rumah  Madura United lawan Bhayangkara FC. Sebuah laga tanpa penonton karena Madura United dihukum oleh Komdis PSSI. Karena  penonton dan suporter Madura United tidak boleh memasuki stadion, mereka  berinisiatif menggelar nobar (nonton bareng) di luar stadion.  Sayang sekali,  acara nobar dibubarkan pihak keamanan.  Tindakan yang menyakitkan bagi pendukung Madura United.

Madura United sebagai sebuah tim lebih sakit lagi. Beberapa saat sebelum laga dimulai, ruang ganti pemain di penuhi aparat keamanan, tribun VVIP  dipenuhi aparat dengan alasan keamanan.

Tanggal 8 November 2017, akun twitter resmi @MaduraUnitedFC  menampilkan foto banyaknya  aparat keamanan di ruang ganti pemain Madura United, sambil menulis keluhan “Suasana Ruang Ganti Madura United FC, sebelum pertandingan. Kami ini tuan rumah Pak Polisi, dan kami mau main bola” .

Di cuitan berikutnya, akun @MaduraUnitedFC menulis keluhan lagi “Madura United sebagai tuan Rumah, kursi VVIP penuh aparat. Bahkan kami hrs bayar mrk yang nonton manis a/n keamanan. Duuh”.

Kemudian @MaduraUnitedFC nge-Twit lagi “Bermain dg rasa takut dan gusar..pasti tidak akan maksimal..Madura Cuma takut sama Bedil…”.

Laga Madura United lawan Bhayangkara FC akhirnya dimenangkan Bhayangkara FC dengan skor 1-3. Madura United kala itu bermain dengan 8 pemain, karena 3 orang pemain mendapat Kartu Merah dari wasit. Sekali lagi, 3 orang pemain Madura United diKartu Merah oleh wasit.

Selamat untuk Bhayangkara FC yang meraih Kampiun Liga 1 musim 2017. Sayangnya juara yang diperoleh  kali ini terasa senyap.

(By : @Yana_Udiyatna)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *