Jadikan Piala Presiden seperti Copa del Rey

Jadikan Piala Presiden seperti Copa del Rey

Piala Presiden seperti Copa del Rey ? Kenapa tidak ?
Copa del Rey adalah sebuah turnamen ‘kelas dua’ setelah La Liga Spanyol.

Meski ‘kelas dua’, Copa del Rey (Piala Raja Spanyol) selalu menarik jutaan pemirsa, apalagi jika babak final mempertemukan klub-klub papan atas La Liga, Real Madrid, Barcelona, Atletico Madrid, Villareal, dll.

Pada babak awal Copa del Rey, sebuah tim biasanya memainkan pemain cadangan. Itu sangat wajar, karena hal itu bagian dari strategi, salah satunya agar pemain inti tetap fit melakoni liga reguler.

Jika tim sudah sampai babak final, sudah pasti tim akan menurunkan pemain inti, demi meraih gengsi dan prestasi.

Copa del Rey tidak hanya diikuti kasta teratas La Liga, tetapi juga diikuti Segunda A dan Segunda B.

Jika PSSI berniat menggelar Piala Presiden 2018, atau bahkan Piala Presiden di tahun-tahun berikutnya, dan tanpa pandang bulu siapapun presidennya, tak ada salahnya PSSI mengadopsi Copa del Rey.

Indonesia tidak memakai istilah “Raja” dalam tata kelola negara dan pemerintahan, tetapi memakai nama “Presiden”.

Sungguh ’eman’ jika Piala Presiden hanya menjadi turnamen ‘uji coba pemain’ sebelum dikontrak resmi oleh klub.

Sungguh sayang jika Piala Presiden yang notabene memakai kata “Presiden”, tetapi klub justru diberikan “opsi”, ikut tidak apa-apa, tidak ikut juga tidak apa-apa. Ini menjadikan Piala Presiden tidak bergengsi di mata pemain atau klub.

Mengadopsi gaya Copa del Rey, Copa Italia, atau Piala Liga dll, hanyalah sekedar contoh acuan. Bukankah PSSI juga pernah menyelenggarakan Piala Indonesia, meskipun tidak konsisten digelar karena berbagai faktor.

Baca Juga : Apakah Hery Kiswanto Bisa Mengangkat PSS Sleman Ke Liga 1 ?

Kenapa Piala Presiden dijadikan seperti Copa del Rey ?
Beberapa tahun terakhir ini, sepakbola Indonesia bangkit yang ditandai dengan beberapa turnamen, salah satunya adalah Piala Presiden.

Piala Presiden 2014 dimenangkan Persib Bandung. Sedangkan Piala Presiden 2017, direbut Arema Malang.
Sesuatu yang sudah berjalan baik kenapa tidak disempurnakan sekalian ?

Disempurnakan dengan cara apa ? Tentu saja dengan ‘mengajak’ klub-klub dari Liga 2 dan Liga 3 untuk terlibat di ajang Piala Presiden. Sekaligus disempurnakan format pertandingannya. Soal pelaksanaan secara teknis, serahkan saja pada operator.

Sebagai gambaran saja, pada babak awal Copa del Rey, klub yang divisinya lebih rendah (kastanya lebih rendah), menjadi tuan rumah pelaksanaan pertandingan. Pertandingan dengan sistem One-Off Game atau satu pertandingan saja.

Setelah memasuki babak 32 besar, pertandingan digelar dengan sistem home & away (kandang-tandang).
Jika sudah sampai babak final, pertandingan kembali menggunakan one-off game, tetapi di tempat netral.

Jika sudah berjalan, tinggal keseriusan PSSI menggelar Piala Presiden secara ‘istiqomah’. PSSI nantinya juga bisa mempertemukan juara Liga 1 melawan juara Piala Presiden. Bigmatch para jawara ini, bisa bernama Piala Super Indonesia.

Jika jawara Liga 1 berhak tampil di Liga Champions Asia, maka jawara Piala Super Indonesia ini, bolehlah diberi kesempatan tampil di Piala AFC (AFC Cup).

Hallo PSSI, bagaimana ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *